Alunan Indah Nyiur Kelapa Tidung

banyak yang bilang maldive nya Indonesia
Membaringkan diri di hamparan pasir putih pantai dengan di temani semilir angin pantai dan hamparan laut yang indah bisa menghilangkan penat dari rutinitas keseharian yang begitu-begitu saja. Alunan suara merdu dari Tracy Chapman menemaniku menikmati indahnya pulau Tidung siang itu, dengan hamparan pantai yang indah di depan mata.


nyiur kelapa bernyanyi riang
Yah pulau Tidung, asal-muasal dari nama Tidung belum jelas menurut saya, Namun dari keterangan penduduk disana bahwa pada jaman dahulu sewaktu Fatahilah menyerbu Malaka, Dia memanfaatkan pulau-pulau kecil di teluk Jakarta untuk berlindung dan menyusun strategi, salah satu pulau yang di gunakan itu adalah pulau Tidung yang mempunya arti Pulau Berlindung.

Pulau Tidung terdiri dari dua Pulau, yaitu Tidung Kecil dan Tidung Besar, menurut keterangan dari masyarakat pulau bahwa dahulu pulau yang di huni penduduk adalah Tidung Kecil, namun sekarang masyarakat yang dulunya berdiam di Pulau Tidung kecil dipindahkan ke Tidung Besar. Sementara Tidung kecil di biarkan sebagai tempat konservasi, jangan terkecoh dengan nama dari Tidung kecil maupun Tidung Besar, karena besar kedua Pulau ini hampir sama.
jembatan kayu yang memukau
Menyusuri jalanan conblock di Tidung besar dengan bersepeda akan memberikan sensasi keindahan yang luar biasa, di sepanjang jalan yang kita lalui diapit oleh dua pantai yang indah, melemparkan pandangan ke kiri adalah hamparan pantai pasir putih sisi selatan Pulau Tidung besar, sedangkan sebelah kanan adalah hamparan pantai sisi Utara pulau, hingga kita sampai di akhir dari jalan conblock dan akan di sambung dengan jalan tanah setapak, namun di lokasi tersebut kita akan disambut oleh hamparan padang ilalang yang indah dengan beberapa pohon kelapa yang seolah bernyanyi di tiup angin pantai di tengahnya. Perjalanan berlanjut dengan melewati perkebunan kelapa di pinggir pantai, pohon-pohon kelapa tumbuh berbaris dengan rapi di sepanjang jalan setapak yang saya lalui, hingga akhirnya sampai di ujung barat pulau Tidung Besar, Arah laju sepeda pun diarahkan untuk berbalik arah menuju sisi timur pulau Tidung Besar, melewati perkampungan penduduk pulau yang kelihatan bersahaja di tengah medernisasi jaman seperti sekarang ini, karena hampir 90 persen penduduk pulau ini adalah Nelayan, dan dari 90 persen tersebut 80 persennya adalah nelayan Pancing sehingga sumber daya laut nya dapat terjamin kelestariannya.
teman saya menjuluki spot ini dengan nama pantai semut karena banyak semutnya
Akhirnya sampailah di ujung timur pulau Tidung besar, saya di suguhi pemandangan luar biasa, sebuah jembatan kayu yang membentang hampir kira 1,5 km dan di ujung jembatan kelihatan Pulau Tidung kecil, yah itu adalah jembatan yang sangat indah, yang menghubungkan kedua pulau Tidung, rasanya tidak sabar untuk segera melintasi jembatan yang indah itu, di bawah jembatan terlihat terhampar laut dangkal yang sangat indah dengan sesekali ikan-ikan warna-warni menampak kan diri seolah mengejek saya untuk segera turun mengejar-ngejar mereka dengan bersnorkling, “tunggu saja nanti…” dalam hati saya berkata.

Setelah melintasi jembatan yang sangat indah itu tibalah di pulau Tidung kecil, hanya ada satu bangunan disana yaitu bangunan tempat pembibitan Mangrove, dari situ jalanan sudah berubah kembali menjadi jalan setapak, namun rasa penasaran ada apa di ujung pulau Tidung kecil ini begitu besar, hingga akhirnya tibalah saya di kuburan Pangeran Hitam, di komplek kuburan tersebut ada beberapa kuburan terlihat dan sebuah surau kecil serta sebuah gubuk tempat seorang kakek tinggal.
Menurut keterangan dari kakek yang tinggal disana Pangeran Hitam sendiri adalah salah satu pembesar dari Baduy yang kalah perang dang mengasingkan diri di pulau tersebut.

Spot melompat dari atas jembatan ke laut
Sambil bercerita si Kakek menyuguhkan ikan bakar segar hasil tangkapan Jaringnya kepada saya, di sajikan dengan sambel terasi yang luar biasa nikmatnya menurut saya, karena masih segar, semuanya bahan di peroleh dari kebun di samping gubuknya, dan menurut keterangan beliau lah bahwa lokasi bagus buat snorkeling berada di sisi utara pulau Tidung kecil ini, setelah kenyang saya pun bergegas menyiapkan peralatan snorkeling yang memang sudah saya bawa di keranjang sepeda saya, dan memang benar baru turun saja gerombolan ikan-ikan sudah mengampiri saya, kondisi karangnya juga beaneka ragam, dengan tingkat kejernihan air yang bagus, sehingga kita bebas melihat beraneka jenis ikan dan karang di lokasi tersebut.
duduk di bawah jembatan ini salah satu sensasi menikmati Tidung
Belum puas rasanya untuk eksplore sisi utara pulau Tidung kecil ini namun senja sudah mengharuskan saya untuk naik kedaratan, selain cahaya matahari yang masuk ke dalam air berkurang, saya juga akan membuktikan kata teman saya bahwa sunset di pulau Tidung luar biasa, dan benar sunset dari atas jembatan memang luar biasa indah, rasanya betah menghabiskan banyak waktu di jembatan ini disaat matahari tenggelam, dan cuaca senja itu mendukung untuk menikmati senja yang indah tersebut, hingga malam pun akhirnya datang dan saya harus segera kembali ke pulau Tidung Besar.
Sunset yang bergelora dari jembatan pulau Tidung
Pagi-pagi sekali saya sudah mengarahkan laju sepeda kearah jembatan karena ingin menikmati indahnya sunrise dari atas jembatan tersebut, namun sayangnya cuaca pagi itu mendung sehingga saya hanya bisa menikmati hening nya pagi itu dari atas jembatan, menurut pengalaman jika paginya mendung seperti ini siangnya akan indah dengan matahari yang terik, dan perkiraan saya pun benar, sekitar jam 9.00 pagi matahari sudah bersinar dengan teriknya, kegiatan pagi ini adalah snorkeling di dua tempat, yaitu di depan dan di belakang kantor kecamatan yang menurut beberapa orang dua spot itu bagus buat snorkeling, saya coba dari belakang kantor camat yaitu sisi utara pulau Tidung besar, benar apa yang dikatakan beberapa orang bahwa lokasi tersebut indah buat snorkeling, setelah pindah ke sisi selatan pulau atau tepatnya di depan kantor kecamatan, indah memang namun ombaknya sudah besar jadi saya tidak leluasa untuk mengejar gerombolan ikan warna-warni dan indahnya terumbu karang disana, hingga akhirnya saya harus kembali ke penginapan untuk bersiap pulang ke Jakarta, sedang asik menunggu kapal setelah membeli tiket seharga 33.000 rupiah, ada berita bahwa kapal tidak berangkat, sedikit panik karena besok nya saya harus kembali ke rutinitas pekerjaan, namun ada orang kecamatan yang berbaik hati menolong untuk mencarikan kapal yang akan berangkat ke muara angke, dan berhasil ada kapal yang bisa saya tumpangi untuk kembali ke muara angke, dalam hati saya berkata “ternyata obrolan saya kemarin bersama beberapa orang kecamatan sudah menumbuhkan pertemanan baru diantara kami, makasih pak”
damainya Tidung di saat matahari tenggelam
How to get there :

1. Jalur dari pasar ikan muara angke, kapal berangkat pagi ke pulau tidung pukul 07:00 namun jika sebelum jam 07.00 kapal sudah penuh kapal akan berangkat, untuk aman nya datang sebelum jam 7 kesana, ini adalah jadwal rutin kapal setiap hari, namun sejak 1 April 2010 sedang di uji coba untuk memberangkatkan kapal yang siang yakni jam 13:00 namun jika penumpang sedikit kapal tidak berangkat, tapi jika sabtu minggu biasanya kapal berangkat dua kali pagi dan siang, begitu juga sebaliknya dari pulau Tidung ke Muara Angke, dengan ongkos 33.000 rupiah sekali jalan, dengan waktu tempuh sekitar 2.5-3 jam perjalanan.

2. Jalur dari Muara Cituis (rawa saban Tangerang) kapal berangkat jam 12:00 siang dan kembali dari pulau Tidung ke Muara Cituis jam 07:00 pagi, dengan ongkos 20.000 rupiah dan waktu tempuh sekitar 2 jam perjalanan.


Penginapan

1. Contact kang Asep (085711226253), kita bisa minta di sediakan penginapan, sewa alat snorkel dan sewa sepeda dari dia, dengan rate kamar sekitar 150.000/malam, sewa sepeda 15.000/24jam, dan sewa snorkel set (kacamata, snorkel dan kaki katak serta jaket pelampung) 35.000/24jam.

2. Homestay Pida ( 081514814561, 085693861322)

3.Losmen Lima Saudara (085888742129, 021-70298683)

Labels: